PemerintahanPendidikanUmum

Gus Ipul Tekankan Tiga Pilar Kepemimpinan Kepala Sekolah Rakyat

208
×

Gus Ipul Tekankan Tiga Pilar Kepemimpinan Kepala Sekolah Rakyat

Sebarkan artikel ini

TAJUKWARTA.COM – Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menekankan tiga hal utama yang harus menjadi perhatian Kepala Sekolah Rakyat sebagai pemimpin tertinggi di lingkungan pendidikan berbasis asrama. Ketiganya yakni pengawasan, kepatuhan, dan kolaborasi.

Hal tersebut disampaikan Gus Ipul saat menggelar rapat koordinasi bersama seluruh Kepala Sekolah Rakyat se-Indonesia melalui Zoom, Rabu (2/9/2026).

Advertisement
Advertisement

Gus Ipul mengatakan, aspek pengawasan menjadi hal pertama yang harus diperkuat mengingat Sekolah Rakyat menerapkan sistem boarding school. Karena itu, para siswa harus mendapatkan pengawasan selama 24 jam.

“Yang pertama yang ingin jadi perhatian kita bersama adalah soal pengawasan. Karena ini boarding school (sekolah berasrama), maka anak-anak harus terawasi selama 24 jam, tanpa kompromi. Upayakan ini menjadi kesadaran dari bapak-ibu sekalian,” kata Gus Ipul.

Menurutnya, pengawasan diperlukan untuk mencegah terjadinya perundungan atau bullying, kekerasan seksual, hingga intoleransi di lingkungan sekolah. Kepala sekolah dapat melibatkan wali asuh, wali asrama, serta memanfaatkan fasilitas CCTV dalam melakukan pengawasan terhadap siswa.

Poin kedua yang ditekankan adalah kepatuhan terhadap seluruh prosedur dan tata kelola sekolah. Gus Ipul meminta pengelolaan Sekolah Rakyat, termasuk tata kelola keuangan, dilakukan secara transparan dan bebas dari korupsi maupun konflik kepentingan.

Selain itu, standar pembelajaran dan pengelolaan asrama juga harus diterapkan secara setara di seluruh Sekolah Rakyat.

Pilar ketiga adalah konsolidasi dan kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan. Kepala sekolah didorong membangun hubungan baik dengan masyarakat sekitar, pemerintah daerah, serta guru tamu yang terlibat dalam proses pembelajaran.

“Sekolah Rakyat berjalan karena kita bergerak Bersama. Guru tamu dilibatkan aktif, bukan pelengkap. Jadi guru-guru tamu ini meskipun sifatnya sementara, tapi libatkan dengan penuh, bangun kesadaran dengan para guru tamu itu. Tidak boleh bekerja setengah-setengah di lingkungan Sekolah Rakyat. Pemda dilibatkan dalam pengawasan perkuat dukungan keamanan, kebersihan, dan penangganan kasus,” tegas Gus Ipul.

READ  Prosesi Meras Gandrung Sakralkan Pantai Boom, 1.400 Penari Bersiap untuk Gandrung Sewu 2025

“Ini saya titipkan betul kepada para kepala sekolah. Intinya adalah pada pengawasan, kepatuhan, dan kolaborasi. Tiga pilar ini tidak bisa ditawar. Setiap anak berhak pulang dengan masa depan yang lebih baik,” sambungnya.

Kepala Sekolah Diminta Laporkan Kondisi Siswa

Gus Ipul juga meminta seluruh Kepala Sekolah Rakyat mulai bulan depan membuat laporan mengenai kondisi masing-masing peserta didik. Laporan tersebut mencakup kondisi kesehatan, perkembangan mental, hingga latar belakang siswa.

Ia memberikan waktu sekitar satu hingga tiga bulan bagi kepala sekolah untuk beradaptasi dengan para siswa dan lingkungan sekolah yang baru. Setelah masa adaptasi tersebut, pengelolaan Sekolah Rakyat diharapkan dapat berjalan secara optimal.

“Jadi para kepala sekolah silakan ini disampaikan dengan baik. Saya masih memberikan satu kesempatan selama satu sampai tiga bulan kepada para kepala sekolah ini untuk beradaptasi, untuk menyesuaikan diri dengan siswa yang baru, dengan lingkungan yang baru. Setelah itu kita harus take off,” ujarnya.

Soroti Sekolah Rakyat Dekat Karhutla

Dalam rapat tersebut, Gus Ipul juga menyoroti kondisi sejumlah Sekolah Rakyat yang berada di sekitar lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Salah satunya pembangunan gedung permanen SRT 1 Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Ia meminta kepala sekolah terus memantau kondisi siswa dan memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah karena lokasi sekolah berada dekat dengan area terdampak karhutla.

“Mohon untuk koordinasi betul dengan pemerintah daerah. Karena jaraknya juga dekat dengan posisi pembangunan permanen Sekolah Rakyat,” jelasnya.

Kepala SRT 1 Kotawaringin Timur Nikkon Bhastari menjelaskan, meski gedung sekolah terdampak asap karhutla dan lokasinya hanya sekitar tiga meter dari titik kebakaran, pihaknya memilih tidak memulangkan siswa ke rumah masing-masing.

READ  BGN Hentikan Insentif SPPG yang Tak Penuhi SOP Program MBG

Menurut Nikkon, berada di lingkungan Sekolah Rakyat dinilai lebih aman karena sekolah memiliki akses yang dekat dengan fasilitas kesehatan serta dilengkapi sejumlah peralatan penanganan kondisi darurat.

“Untuk anak-anak dikondisikan tidak kami pulangkan karena lebih berbahaya ketika pulang daripada di SR. Kalau di SR dekat dengan puskesmas, dekat dengan rumah sakit, fasilitas kami lengkap. Oksigen ada, masker kami sudah terpenuhi, nebulizer juga sudah siap,” ungkap Nikkon.

Kegiatan belajar mengajar pun tetap berlangsung. Namun, ketika ruang kelas terdampak asap, pembelajaran dialihkan ke asrama dengan pendampingan para guru.

“Tetap kami melakukan pembelajaran. Dimulai dari pukul 8 sampai pukul 9 (pagi). Namun ketika kabut, maka kegiatan pembelajaran (dilakukan) di asrama dibantu oleh guru-guru,” jelasnya. (JPT)